Halo~
Ini anime Summer 2026. Konteksnya, MC-nya pengen balas dendam. Kenapa? Karena bukan cuma dikhianati tunangannya, seluruh negara (keluarga, istana, orang-orang di sekitarnya, bahkan rakyat yang dia perjuangankan) membiarkan dia dipermalukan dan tidak membelanya sama sekali, maka Ellie menyimpulkan negaranya sendiri tidak pantas ia layani, sehingga ia bersumpah menghancurkan seluruh kerajaan itu, bukan cuma balas dendam pada mantan tunangannya.
Untuk selengkapnya, silahkan tonton sendiri animenya, ya. Nah, belakangan ini, animenya itu jadi dibicarakan karena rilisnya episode 8. Mungkin karena terbiasa disuguhi kisah Akuyaku Reijou yang komedi-komedian doang, dengan tokoh yang digambarkan masih bermoral, maka begitu dapat kisah Akuyaku Reijou yang betulan “akuyaku” jadi ramai dibincangkan. Mungkin. Tapi apa pun itu, di sini kita akan bahas hal menarik dari animenya. Yaitu proses balas dendam dia yang sudah dimulai.
=== Spoiler Alert ===
Jadi di episode 8, yang terbaru, dia itu menanamkan sihir/kutukan ke tokoh bernama Robert, tangan kanan tunangannya yang dulu mengkhianatinya. Akibat kutukan itu, si Robert ini tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan mulai membunuh setiap orang yang di jalannya. Termasuk anak-anak kecil. Ini pun menuai perdebatan, apakah dia salah, apakah dia benar. Naif vs bukan-Naif, Keji vs bukan-Keji, wajar VS bukan-wajar. Ada yang dukung, karena dia dikhianati, ada yang tidak karena moral, dan lainnya.
Penulis pun gamau ketinggalan, agak jarang anime model beginian zaman ini. Palingan sequel yekan. Jadi di sini pertanyaannya sederhana. Bukan soal Elizabeth secara keseluruhan mau ngelawan kerajaan atau enggak, itu ceritanya panjang, dan sah-sah aja punya pendapat sendiri soal itu. Yang mau kita bedah di sini lebih sempit dan spesifik:
Pertanyaan: Apakah Elizabeth benar atau salah, mengutuk Robert sampai jadi mesin jagal yang bunuh siapa pun yang ada di jalannya, termasuk anak-anak?
Jawaban: Sayangnya, jawabannya itu tergantung kerangka moral yang kalian pilih.

Robert si Mesin Jagal
Di dunia ini ada banyak cara orang menilai benar-salah. Salah benar itu relatif, tergantung “aturan main” mana yang kalian pakai buat menilai. Kalau pakai patokan agama (6 agama di Indonesia, misalnya), dia salah, titik, gak ada tapi-tapian. Kalau pakai patokan “yang penting itu pilihan bebas gue sendiri, gue yang nentuin benar-salah gue sendiri, gak ada yang berhak nge-judge”, dia gak salah, tapi juga gak bisa dibilang benar, karena di kerangka ini emang gak ada “benar-salah” yang berlaku ke orang lain.
Biar gak muter-muter doang, ini dua contoh biar kebayang bedanya bisa separah apa. Yang dinilai di sini cuma satu tindakan: kutukan yang bikin Robert jadi bunuh siapa aja tanpa pandang bulu. Bukan rencana besar Elizabeth ngehancurin kerajaan, itu soal lain, dan kita gak bahas itu sekarang.
Kubu yang Bilang Elizabeth Salah

Kubu ini biasanya pakai patokan yang paling sering dipegang orang tanpa sadar: niat baik gak otomatis ngebenerin cara yang dipakai. Robert emang bersalah, tapi anak-anak yang mati di tangannya itu gak pernah nyakitin Elizabeth sedikit pun. Mereka gak punya urusan sama drama pertunangan atau politik istana. Buat kubu ini, begitu korban yang gak terlibat ikut kena, tindakan itu berhenti jadi “keadilan” dan berubah jadi kekejaman biasa. Kutukan itu bukan pedang yang cuma nyasar ke Robert doang, tapi bom yang efeknya nyebar ke siapa pun di sekitarnya, dan itu yang bikin Elizabeth, di mata kubu ini, sama aja jadi pelaku kejahatan, bukan cuma korban yang membela diri.
Kubu yang Bilang Elizabeth Tidak Salah

Kubu satunya lihat dari sudut lain: Robert bukan orang biasa yang kebetulan lewat. Dia tangan kanan yang aktif bantu ngerancang penghinaan ke Elizabeth, bagian dari sistem yang udah nyakitin dia. Buat kubu ini, begitu seseorang jadi alat dari ketidakadilan, dia otomatis masuk jadi target yang sah dalam logika balas dendam, dan korban yang jatuh di sekitarnya dianggap konsekuensi dari “perang” yang emang udah dimulai duluan oleh pihak istana, bukan oleh Elizabeth. Buat kubu ini juga, menuntut Elizabeth untuk tetap rapi dan proporsional dalam balas dendamnya itu standar yang gak adil, karena yang nyakitin dia duluan juga gak main rapi dan proporsional.
Mendefinisikan Sistem
Jadi, kalau mau ngomongin benar atau salah, daripada muter ke sana ke mari, mending sepakatin dulu “patokan”-nya kalian pakai yang mana. Dari situ baru bisa ditarik kesimpulan yang jelas. Pakai patokan agama misalkan, fix salah, no debat, no kecot. Pakai patokan kebebasan total, fix tidak salah, tidak benar, no debat no kecot.
Karena ini yang sering luput. Sadar gak sadar, pas kalian ributin Elizabeth ngutuk Robert ini benar apa salah, sebenarnya yang lagi diributin itu apa? Tindakannya, atau patokan yang dipakai buat menilai tindakan itu? Dari dua cara pandang tadi, kalau kalian melanjutkan dengan “tapi…”, sadar gak sadar, pertanyaannya udah berubah.
Dari, “apakah kutukan itu benar atau salah”
Menjadi, “apakah patokannya benar atau salah”
Makanya ada dua level pembicaraan. Level satu: tentukan, patokan yang menyatakan kutukan itu benar atau salah, apa. Level dua: tentukan, patokan kenapa patokan itu yang dipilih, apa. Dengan demikian kalian bisa punya lingkungan pembicaraan yang terbatas, dan gak melebar ke mana-mana, apalagi melebar ke “apa Elizabeth berhak dendam secara umum,” yang itu topik terpisah. Biar gak abstrak, kita coba contoh lagi, kubu yang bilang “wajar aja sih, dia kan udah gak punya beban moral lagi ke kerajaan itu.”
Kesimpulan

Sekarang kita terapkan yang tadi itu, untuk rumusan masalah di awal. Kita harus memulai dari mendefinisikan sistemnya dulu untuk menjawab pertanyaannya.
Pertanyaan: Apakah Elizabeth benar atau salah, mengutuk Robert sampai jadi mesin jagal yang bunuh siapa pun yang ada di jalannya, termasuk anak-anak?
Kalau ditarik ke pendapat penulis ini sendiri, akan pakai patokan level 1 berupa kontrak sosial. Elizabeth dan kerajaan itu punya semacam “kesepakatan tak tertulis”: dia mengabdi, dan sebagai gantinya dia dilindungi, dihargai, diperlakukan setara. Dari kontrak sosial ini, maka mereka yang memiliki kapasitas (orang dewasa) akan saling berkontrak, anak-anak meski belum memiliki kapasitas juga terlindungi dari kontrak sosial itu.
Di anime itu, Elizabeth didefinisikan sebagai tokoh utama dan warga kerajaan. Kerajaan didefinisikan sebagai setiap entitas yang merupakan warga negara kerajaan. Kontrak sosial didefinisikan kepatuhan hukum antara pihak-pihak dalam Kerajaan. Karena premis cerita dia dikhianati oleh kerajaan, sebab dia mengabdi bukan hanya untuk pangeran, tapi juga rakyat, namun ketika konspirasi menyerangnya dan tidak terbukti ada satu pun yang memiliki kapasitas membelanya, maka itu bukan lagi Elizabeth VS pangeran, Robert, bangsawan 1, bangsawan 2, dst; rakyat 1, rakyat 2, dst. Tapi Elizabeth VS Kerajaan.
Begitu yang memiliki kapasitas justru diam saat Elizabeth dipermalukan di depan umum tanpa pembelaan sama sekali, kontrak itu otomatis putus dari kerajaan duluan. Kok otomatis putus? Karena seharusnya, yang seperti itu harus lewat pembuktian bersalah atau tidak (tapi dilewati gitu aja), jadi kontrak itu dilanggar sepihak. Karena kontraknya sudah rusak, Elizabeth otomatis gak lagi terikat kewajiban moral ke kerajaan itu, dan menilai tindakannya pakai standar moral yang berlaku untuk anggota masyarakat yang terikat, jadi gak relevan lagi buat kasus dia.
Anak-anak yang tidak tau apa-apa, otomatis kehilangan perlindungan dari kontrak sosial itu. Sehingga, meski mereka tidak bersalah langsung kepada Elizabeth. Mereka yang jadi korban Robert yang dikutuk Elizabeth, tidak membuat status benar atau salah relevan ke Elizabeth. Benar atau salah kehilangan maknanya di level satu, menyisakan apa yang ada (Robert dikutuk dan membunuh membabi buta).
Sekarang, kenapa patokan level 1 benar daripada patokan lain. Karena, kontrak sosial sebagai patokan level 1, itu level 2: karena moral itu bukan sesuatu yang ada secara alami di alam semesta, dia lahir dari kesepakatan antar manusia dalam masyarakat, kontrak sosial tadi. Begitu kesepakatan itu dilanggar oleh salah satu pihak, hubungan itu balik lagi ke “state of nature murni“, didefinisikan sebagai kondisi di mana gak ada lagi aturan bersama yang mengikat kedua belah pihak.
Dibanding makai kerangka moral tertentu yang njelasin apakah tindakan Elizabeth itu benar atau salah, penulis lebih milih ngakuin bahwa relasi moral antara Elizabeth dan kerajaannya itu sendiri sudah “tidak ada” sehingga pertanyaan apakah tindakan Elizabeth dalam mengutuk Robert agar membabi buta benar atau salah, itu tidak relevan ditanyakan karena dalam dunia itu, sesuatu yang membuat moral relevan telah runtuh duluan.
Jawaban: Tidak benar dan tidak salah. Karena menilai benar atau salah Elizabeth itu, tidak relevan lagi. Karena relasi institusi moral atau legalnya saja sudah tidak ada dengan Elizabeth.

MBG imut bangetz
Sekian~
