
Tiga episode telah disajikan dan sebagai impresi singkat, ini series yang menarik dan begitu relate dengan kehidupan masa kini. Dimana semuanya berbasis teknologi, pertemuan daring melalui VR, paparan media sosial dan imbasnya pada anggota band, selain sebagai perwakilan jatidiri, dan juga, yang disukai sebagian kalangan: Drama band yang dibawakan masing masing series.

Menilik dua episode sebelumnya, kita diperlihatkan Arale dan Miyako memiliki “kemelutan” masing masing. Dari Miyako yang membagi waktu sebagai Illustrator dan juga latihan band, dan Arale dengan masa lalunya yang masih menghantuinya. Entah apakah itu murni kesalahannya, atau seseorang meng-orkestrakan semuanya dibalik layar. Perundungan siber.
Tak butuh waktu lama. Saatnya menuju ulasan episode ketiga.

Fenomena chat berbasis AI pun ditunjukkan dengan baik, dan menjadi comedic value dimana selama ini pesan singkat Nonoka dibalas oleh Yuno melalui, asisten AI?

Sungguh sebuah fenomena yang begitu menyentil era sekarang. Dimana keberadaan Ai-Based sudah begitu menjamur, dan menjadi perdebatan sengit akan eksistensi mereka dan konsensus akan pemakaian Ai-based tool ini (yang mana ini akan jadi pembahasan selanjutnya)

Dilaniutkan segmentasi Sengoku Yuno yang “menyaksikan” Ritsu dan Arale yang sudah memercikkan konflik lama atau problem yang nampaknya belum usai (setidaknya itu menurut Yuno). Jelas disini Yuno menampakkan sedikit karakternya: Nampak perduli.

Dilanjutkan pertemuannya dengan Ritsu yang secara kebetulan..dan juga dirinya yang terkapar karena kelelahan, lalu meminta tolong Ritsu membelikannya makanan. Sisi humor yang disajikan disini ringan, namun juga sedikit memberikan karakter bagi Ritsu: Big Eater ternyata.

Namun..epilog episod ini membawa sebuah gebrakan baru.

Sosok Villain?
Sosok jahat?

Lalu siapa Viola, dan kenapa bersikukuh pada eksistensi MewType?
Nantikan ulasan episode selanjutnya
