Merayakan kembalinya manga Hunter x Hunter karya Yoshihiro Togashi, sepertinya tidak ada momen yang lebih pas untuk kembali membahas salah satu arc terbaik yang pernah lahir dari manga shounen, yaitu Arc Chimera Ant. Sampai sekarang, arc ini masih sering disebut sebagai bagian paling gelap sekaligus paling emosional dalam keseluruhan cerita Hunter x Hunter. Bukan hanya karena pertarungannya yang spektakuler, tetapi juga karena cara Togashi mengangkat tema kemanusiaan dari sudut pandang yang berbeda.
Arc ini berpusat pada Meruem, Raja Chimera Ant yang lahir sebagai makhluk paling sempurna. Sejak kemunculan pertamanya, Meruem digambarkan sebagai sosok yang dingin, arogan, dan tidak memiliki belas kasihan sedikit pun. Manusia baginya hanyalah sumber makanan, bahkan nyawa sesama Chimera Ant pun tidak berarti jika dianggap lemah atau menghalangi tujuannya. Selama menjalankan ambisinya, Meruem selalu ditemani oleh tiga Royal Guard yang sangat setia, yaitu Neferpitou, Shaiapouf, dan Menthuthuyoupi, yang siap mempertaruhkan nyawa demi melindungi sang raja.
Namun semuanya mulai berubah ketika Meruem bertemu Komugi, seorang gadis buta yang merupakan juara dunia permainan Gungi. Awalnya Meruem hanya ingin membuktikan bahwa dirinya unggul dalam segala hal, tetapi berkali-kali ia justru dikalahkan oleh Komugi. Dari permainan sederhana itulah perlahan muncul rasa penasaran, rasa hormat, hingga emosi yang sebelumnya tidak pernah dimiliki Meruem. Sosok yang sejak awal digambarkan sebagai monster tanpa hati mulai memahami arti kasih sayang, kepedulian, bahkan rela mempertaruhkan dirinya demi seseorang.
Perubahan itu menjadi sangat kontras jika dibandingkan dengan Gon Freecss. Setelah mengetahui Kite, sosok yang ia anggap sebagai mentor sekaligus orang penting dalam hidupnya, tewas di tangan Neferpitou, Gon perlahan tenggelam dalam amarah dan dendam. Puncaknya terjadi ketika ia mengorbankan seluruh potensi hidupnya demi memperoleh kekuatan untuk mengalahkan Pitou. Di momen tersebut, Gon tidak lagi bertindak seperti anak baik yang kita kenal sejak awal cerita. Ia justru berubah menjadi sosok yang menakutkan, bahkan membuat Pitou menganggapnya sebagai ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada seekor monster.
Di sinilah letak keistimewaan Arc Chimera Ant. Togashi seolah membalik peran antara manusia dan monster. Meruem yang merupakan seekor Chimera Ant justru perlahan menemukan sisi kemanusiaannya berkat Komugi, sementara Gon yang sejak awal adalah manusia malah kehilangan sisi tersebut karena dipenuhi kebencian. Layaknya judul lagu ending arc ini, Hyori Ittai atau “Dua sisi pada koin yang sama”, Arc Chimera Ant memperlihatkan bahwa monster bisa belajar menjadi manusia, sementara manusia juga bisa berubah menjadi monster ketika dikuasai oleh amarah dan dendam. Itulah alasan mengapa hingga sekarang arc ini masih dianggap sebagai salah satu karya terbaik Yoshihiro Togashi.
